Betemas
Tari Betemas merupakan tarian tradisional yang terinspirasi dari tradisi pengobatan Betemas yang masih dikenal oleh masyarakat Desa Baru. Tradisi ini menggunakan kunyit sebagai media utama dalam proses pengobatan tradisional untuk mengetahui penyebab penyakit serta memohon kesembuhan dan keselamatan. Melalui gerakan yang lembut, tenang, dan penuh penghayatan, para penari menggambarkan proses pengolahan kunyit, pembacaan doa, hingga prosesi Betemas yang dilakukan sebagai upaya penyembuhan. Gerakan memutar, mengusap, dan menadahkan tangan melambangkan pencarian petunjuk, pembersihan diri, serta harapan akan kesehatan dan kesejahteraan. Tari Betemas tidak hanya menampilkan nilai seni, tetapi juga merepresentasikan kearifan lokal masyarakat Desa Baru dalam menjaga tradisi pengobatan leluhur yang sarat dengan nilai spiritual, kebersamaan, dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
- Durasi
- 6-7 menit
Makna dan cerita tarian
Filosofi: Tari Betemas memiliki filosofi yang bersumber dari tradisi pengobatan Betemas yang dikenal oleh masyarakat Desa Baru. Penggunaan kunyit sebagai media utama dalam tradisi tersebut menjadi simbol ikhtiar masyarakat dalam mencari penyebab penyakit sekaligus memohon kesembuhan dan keselamatan. Kunyit tidak hanya dipandang sebagai bagian dari pengobatan tradisional, tetapi juga menjadi simbol harapan, penyembuhan, dan pemeliharaan kesehatan. Gerakan tari yang lembut dan penuh penghayatan menggambarkan hubungan antara manusia, tradisi leluhur, dan nilai spiritual. Gerakan memutar dan mengusap dapat dimaknai sebagai simbol proses pencarian petunjuk dan pembersihan diri, sedangkan gerakan menadahkan tangan menggambarkan doa dan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk memperoleh kesembuhan, keselamatan, serta kesehatan. Secara keseluruhan, Tari Betemas merepresentasikan nilai ikhtiar, doa, kebersamaan, rasa syukur, dan penghormatan terhadap warisan leluhur. Filosofi tersebut menunjukkan bahwa tradisi Betemas tidak hanya berkaitan dengan pengobatan tradisional, tetapi juga mencerminkan kearifan lokal masyarakat Desa Baru dalam mempertahankan pengetahuan dan nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Sumber cerita: Nyai Siti Aisyah, narasumber tradisi Betemas.